“Saat orang mulai menyadari
bahwa cinta tak boleh dipaksakan”
Cerita
ini berawal dari sebuah kisah yang indah. Ketika dua orang insan bertemu di
sudut sekolah. Dengan senyum yang manis, gadis kecil itu menyapa seorang remaja
di tengah kesibukannya. Namun, entah merasa kecewa atau sedih, gadis itu hanya
mendapat sapaan yang mungkin tidak begitu berkesan baginya. Dia pun pergi
menjauh dan hanya menunggu di kejauhan sambil memperhatikan remaja itu. Dan
akhirnya seseorang menghampirinya dan mengisi kesendirian gadis itu.
Pada
kisah lainnya, remaja itu ternyata besedih saat gadis kecil itu pergi begitu
saja. Dia menyesal karena kesibukan yang memaksanya untuk pergi
meninggalkannya. Satu hal yang tersimpan di benaknya. Senyum yang begitu indah
darinya. Kisah ini berlanjut begitu lama sampai keduanya bertemu lagi dalam
suatu kebersamaan. Gadis itu senang karena remaja itu sudah punya banyak waktu
untuknya. Semua cerita antara mereka seakan-akan tak lagi diungkapkan dalam
perbincangan karena perasaan mereka sudah menceritakan keindahaan hidup mereka.
Semakin
lama mereka semakin dekat. Tidak lagi perbincangan biasa bahkan tawa dan canda
mengiringi kisah itu. Sampai suatu saat, remaja itu tak mau berlama-lama
memendam persaaannya selama ini. Dengan hati deg-degkan dia bisikkan kata cinta kepadanya. Gadis itu pun
terkejut. Hatinya melayang-layang tak tau arah. Akhirnya, cintalah yang
menyatukan mereka.
Awalnya
manis. Berikutnya, masih manis. Lalu mulai terbiasa. Hingga suatu saat gadis
itu mengeluh. Kenapa cinta kita begini? Kenapa kamu jauh dariku, i need you now! Dikejauhan remaja itu
bersedih. Apa yang dirasakaannya itu seakan menyayat perasaannya. Kedua insan
ini mengalami cobaan. Itulah yang diharapkan oleh sang pencipta. Mereka diuji sampai
kata “setia” itu tertanam dalam diri mereka. Namun, gadis itu mencari pelarian.
Dia berusaha mengisi kesepian, kegalauan, dan kesedihannya dengan mencari cinta
semu lainnya. Di sisi lain, remaja itu bertahan. Dia bahkan tidak tau siapa
yang mengisi hari-hari gadis itu di sana. Yang dia rasakan hanya sakit. Rasa
sakit akibat cobaan itu, bahkan dia coba rasakan sakitnya menjadi gadis itu.
Hanya harapan kecil yang menguatkannya yaitu pasti mereka akan bersatu. Hanya
itu.
Saat
cinta itu mulai menguat, kenapa kau tak disini? Kenapa kau tak ada? Gadis itu
pun mulai diuji. Cintanya yang kuat pada remaja itu memaksanya pada sebuah
dilema. Kenapa cinta itu menyakitkan? Setauku cinta itu indah, setauhuku cinta
itu selalu ada pada saat dia dibutuhkan. Selalu ada saat aku sedih. Gumam gadis
itu. Itulah cobaan yang diberikan bagi kedua insan itu. Namun, gadis itu hanya
merenungi nasibnya. Cintanya semakin tak terkendali, sampai suatu saat, dia
mencoba pergi dari kenyataan cintanya. Dia meninggalkan sejenak komitmennya
bersama remaja idamannya. Dia pergi. Dengan yang lain.
Di
sisi lain, sisi yang menyakitkan. Remaja itu hanya berdiam, termenung,
berfikir, bahkan menangis. Dia tak kuat menanggung rasa bersalah karena
meninggalkan gadis idamannya itu. Pasti dia sering menangis. Pasti dia
kesepian. Dengan lemas dia pergi, memohon pada yang kuasa, supaya ada yang
menemaninya saat dia kesepian. Hanya itu yang dapat ia lakukan. Semuanya demi
kita sayang. Dalam hatinya.
Saati
itu, gadis itu pun mulai tertawa. Dia gembira karena teman-teman yang begitu
perhatian padanya. Dia tertawa, gembira, sampai seorang lelaki mendekatinya.
Hatinya berbunga-bunga. Dia jatuh cinta. Akhirnya kata cinta membuatnya luluh.
Saat
bisa berhubungan dengan remaja idamannya gadis itu terlihat gembira, dia
terlihat begitu senang. Remaja itu pun ikut senang, ternyata Tuhan mengabulkan
permintaannya. Setelah itu, hanya diam. Hening. Perasaan mereka beradu.
“Kita
putus ya, aku tau ini pasti berat. Aku tau kalau itu kesalahan terbesar yang
aku buat. Aku tak tau mau buat apa lagi. Tapi semoga ini yang terbaik. J “
Remaja
itu bingun, tak tau berbuat apa. Sedih. Semua memang salahnya. Tapi dimanakan
keadilan? Tak bolehkan remaja itu membahagiankan kekasihnya? Waktu begitu
jahat? Tidak. Remaja itu pun bangkit. Dia ingin buktikan, cinta yang
diyakininyalah yang benar. Sampai suatu saat dia mengorbankan perasaannya.
Hanya doa, dia tak berdaya, dia sangat menyayangi gadis itu. Biarlah dia
bahagia. Selamanya. Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar