Selasa, 25 Juni 2013

Waktu begitu jahat? Tidak

 “Saat orang mulai menyadari bahwa cinta tak boleh dipaksakan”

          Cerita ini berawal dari sebuah kisah yang indah. Ketika dua orang insan bertemu di sudut sekolah. Dengan senyum yang manis, gadis kecil itu menyapa seorang remaja di tengah kesibukannya. Namun, entah merasa kecewa atau sedih, gadis itu hanya mendapat sapaan yang mungkin tidak begitu berkesan baginya. Dia pun pergi menjauh dan hanya menunggu di kejauhan sambil memperhatikan remaja itu. Dan akhirnya seseorang menghampirinya dan mengisi kesendirian gadis itu.
           Pada kisah lainnya, remaja itu ternyata besedih saat gadis kecil itu pergi begitu saja. Dia menyesal karena kesibukan yang memaksanya untuk pergi meninggalkannya. Satu hal yang tersimpan di benaknya. Senyum yang begitu indah darinya. Kisah ini berlanjut begitu lama sampai keduanya bertemu lagi dalam suatu kebersamaan. Gadis itu senang karena remaja itu sudah punya banyak waktu untuknya. Semua cerita antara mereka seakan-akan tak lagi diungkapkan dalam perbincangan karena perasaan mereka sudah menceritakan keindahaan hidup mereka.
            Semakin lama mereka semakin dekat. Tidak lagi perbincangan biasa bahkan tawa dan canda mengiringi kisah itu. Sampai suatu saat, remaja itu tak mau berlama-lama memendam persaaannya selama ini. Dengan hati deg-degkan dia bisikkan kata cinta kepadanya. Gadis itu pun terkejut. Hatinya melayang-layang tak tau arah. Akhirnya, cintalah yang menyatukan mereka.
            Awalnya manis. Berikutnya, masih manis. Lalu mulai terbiasa. Hingga suatu saat gadis itu mengeluh. Kenapa cinta kita begini? Kenapa kamu jauh dariku, i need you now! Dikejauhan remaja itu bersedih. Apa yang dirasakaannya itu seakan menyayat perasaannya. Kedua insan ini mengalami cobaan. Itulah yang diharapkan oleh sang pencipta. Mereka diuji sampai kata “setia” itu tertanam dalam diri mereka. Namun, gadis itu mencari pelarian. Dia berusaha mengisi kesepian, kegalauan, dan kesedihannya dengan mencari cinta semu lainnya. Di sisi lain, remaja itu bertahan. Dia bahkan tidak tau siapa yang mengisi hari-hari gadis itu di sana. Yang dia rasakan hanya sakit. Rasa sakit akibat cobaan itu, bahkan dia coba rasakan sakitnya menjadi gadis itu. Hanya harapan kecil yang menguatkannya yaitu pasti mereka akan bersatu. Hanya itu.
             Saat cinta itu mulai menguat, kenapa kau tak disini? Kenapa kau tak ada? Gadis itu pun mulai diuji. Cintanya yang kuat pada remaja itu memaksanya pada sebuah dilema. Kenapa cinta itu menyakitkan? Setauku cinta itu indah, setauhuku cinta itu selalu ada pada saat dia dibutuhkan. Selalu ada saat aku sedih. Gumam gadis itu. Itulah cobaan yang diberikan bagi kedua insan itu. Namun, gadis itu hanya merenungi nasibnya. Cintanya semakin tak terkendali, sampai suatu saat, dia mencoba pergi dari kenyataan cintanya. Dia meninggalkan sejenak komitmennya bersama remaja idamannya. Dia pergi. Dengan yang lain.
       Di sisi lain, sisi yang menyakitkan. Remaja itu hanya berdiam, termenung, berfikir, bahkan menangis. Dia tak kuat menanggung rasa bersalah karena meninggalkan gadis idamannya itu. Pasti dia sering menangis. Pasti dia kesepian. Dengan lemas dia pergi, memohon pada yang kuasa, supaya ada yang menemaninya saat dia kesepian. Hanya itu yang dapat ia lakukan. Semuanya demi kita sayang. Dalam hatinya.
          Saati itu, gadis itu pun mulai tertawa. Dia gembira karena teman-teman yang begitu perhatian padanya. Dia tertawa, gembira, sampai seorang lelaki mendekatinya. Hatinya berbunga-bunga. Dia jatuh cinta. Akhirnya kata cinta membuatnya luluh.
          Saat bisa berhubungan dengan remaja idamannya gadis itu terlihat gembira, dia terlihat begitu senang. Remaja itu pun ikut senang, ternyata Tuhan mengabulkan permintaannya. Setelah itu, hanya diam. Hening. Perasaan mereka beradu.
         “Kita putus ya, aku tau ini pasti berat. Aku tau kalau itu kesalahan terbesar yang aku buat. Aku tak tau mau buat apa lagi. Tapi semoga ini yang terbaik. J “
       Remaja itu bingun, tak tau berbuat apa. Sedih. Semua memang salahnya. Tapi dimanakan keadilan? Tak bolehkan remaja itu membahagiankan kekasihnya? Waktu begitu jahat? Tidak. Remaja itu pun bangkit. Dia ingin buktikan, cinta yang diyakininyalah yang benar. Sampai suatu saat dia mengorbankan perasaannya. Hanya doa, dia tak berdaya, dia sangat menyayangi gadis itu. Biarlah dia bahagia. Selamanya. Semoga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar