Sebuah
jejak perjalanan yang sampai saat ini masih membekas, sekarang telah menjadi
prasasti yang telah terukir indah dalam benak setiap orang yang telah
mengenalnya. Kisah mengenai berbagai pengalaman, telah membuat ingatan kita
merekam dengan jelas kenangan yang telah berlalu. Tentunya semua tidak dapat
terbentuk dengan begitu mudah. Semuanya berawal dari jejak yang pertama kali
kita buat. Jejak itu tak terlihat begitu sempurna. Masih ada bagian yang cacat
karena adanya proses adaptasi. Sungguh sayang jika kita berusaha menghapus
jejak itu. Biarlah jejak pertama itu dilihat oleh para pejuang pengganti kita
untuk sejenak merefleksikannya dan kelak dapat membuat jejak yang tak kalah
indahnya.
Setelahnya,
marilah kita melihat sejenak jejak-jejak yang telah kita buat. Hingga sampai
tempat perhentian sementara, kita telah melewati jalan penuh dengan batu
terjal. Apakah kita akan melupakan batu yang menghalangi kita? Jangan lupakan
itu. Ingatkah bahwa ditengah perjalanan, kita hampir menyerah karena batu-batu
itu? Pada saat itu juga, ingatkah kita bahwa ada sosok manusia di samping kita
yang telah mengulurkan tangannya untuk menopang kita? Ya, dialah para sahabat
kita. Tentunya, kita tidak perlu menghindari batu itu. Kita hanya perlu
melewatinya saja maka kita akan terbiasa pada keadaan itu, sehingga batu yang
lebih besar sekalipun dapat kita atasi dikemudian hari.
Kita
telah mendapatkan banyak pelajaran. Dan dengan penuh kepercayaan kita melangkah
terus hingga sampai pada tujuan kita. Tetapi bukankah kita tidak ingin jika
kita telah sampai kita hanya membawa tangan kosong? Maka, dalam perjalanan,
kita telah diberi kesempatan untuk mencari “buah-buah” dari “pohon” di samping
perjalanan kita. Setiap pohon mempunyai tantangan sendiri. Ada yang sulit untuk
dipanjat dan ada yang mudah. Semua tergantung pada keinginan kita untuk
berusaha dan bekerja keras. Namun, pernahkan kita berbuat curang? Contohnya
saja ketika kita mencuri buah teman kita saat teman kita sedang istirahat.
Kemungkinan berbuat curang itu ada. Tetapi sering kita mencari alasan bahwa
kita melakuakan dengan alasan “kepepet”. Hal itu tidak bisa diterima, karena
lama – kelamaan akan menjadi kebiasaan buruk dan akan menghambat perjalanan
kita.
Hingga
sampai ke tempat tujuan kita sementara, ada sebuah “jurang” yang harus kita
lewati. Tentunya kita tidak hanya duduk berdiam sambil melihat jurang di depan
kita. Dalam perjuangan terakhir, kita dituntut untuk saling bekerja sama untuk
membangun sebuah “jembatan” penyebrangan. Awalnya kita memang tidak bisa,
tetapi kita telah memperoleh kunci dari perjalanan yang telah kita lalui yaitu
kita harus berlatih. Sehingga jembatan yang kita buat benar-benar kokoh dan
mampu membawa kita pada keberhasilan. Bagi yang mencari “jalan pintas” dengan
membuat jembatan sendiri yang instant, malahan
akan tertinggal karena rapuhnya jembatan itu.
Sesampainya
di tempat tujuan sementara, kita boleh berhenti di depan gerbang untuk
menginjakkan jejak kita yang terakhir kalinya. Disitulah kita dapat melihat,
jejak itu begitu indah seolah-olah ada “warna-warni” yang menghiasi setiap
lekukakannya. Dan saat kita melihat kebelakang, footprint (bekas jejak kaki) berkelok-kelok panjang menghiasi
perjalanan yang telah kita lalui. Setelah kita melewati gerbang itu, jangan
terkejut bahwa setitik cahaya di depan kita harus dicapai dengan melewati hutan
belantara nan luas. Oleh karenanya, mari kita bangkit dari kegagalan kita dan
meneruskan keberrhasilan kita. Tetaplah semangat dan jangan pernah menyerah
pada keadaan. Dan Tuhan pun menyertai kita. Deo
Gratias!