Minggu, 30 Juni 2013

footprint

     Sebuah jejak perjalanan yang sampai saat ini masih membekas, sekarang telah menjadi prasasti yang telah terukir indah dalam benak setiap orang yang telah mengenalnya. Kisah mengenai berbagai pengalaman, telah membuat ingatan kita merekam dengan jelas kenangan yang telah berlalu. Tentunya semua tidak dapat terbentuk dengan begitu mudah. Semuanya berawal dari jejak yang pertama kali kita buat. Jejak itu tak terlihat begitu sempurna. Masih ada bagian yang cacat karena adanya proses adaptasi. Sungguh sayang jika kita berusaha menghapus jejak itu. Biarlah jejak pertama itu dilihat oleh para pejuang pengganti kita untuk sejenak merefleksikannya dan kelak dapat membuat jejak yang tak kalah indahnya.

     Setelahnya, marilah kita melihat sejenak jejak-jejak yang telah kita buat. Hingga sampai tempat perhentian sementara, kita telah melewati jalan penuh dengan batu terjal. Apakah kita akan melupakan batu yang menghalangi kita? Jangan lupakan itu. Ingatkah bahwa ditengah perjalanan, kita hampir menyerah karena batu-batu itu? Pada saat itu juga, ingatkah kita bahwa ada sosok manusia di samping kita yang telah mengulurkan tangannya untuk menopang kita? Ya, dialah para sahabat kita. Tentunya, kita tidak perlu menghindari batu itu. Kita hanya perlu melewatinya saja maka kita akan terbiasa pada keadaan itu, sehingga batu yang lebih besar sekalipun dapat kita atasi dikemudian hari.

         Kita telah mendapatkan banyak pelajaran. Dan dengan penuh kepercayaan kita melangkah terus hingga sampai pada tujuan kita. Tetapi bukankah kita tidak ingin jika kita telah sampai kita hanya membawa tangan kosong? Maka, dalam perjalanan, kita telah diberi kesempatan untuk mencari “buah-buah” dari “pohon” di samping perjalanan kita. Setiap pohon mempunyai tantangan sendiri. Ada yang sulit untuk dipanjat dan ada yang mudah. Semua tergantung pada keinginan kita untuk berusaha dan bekerja keras. Namun, pernahkan kita berbuat curang? Contohnya saja ketika kita mencuri buah teman kita saat teman kita sedang istirahat. Kemungkinan berbuat curang itu ada. Tetapi sering kita mencari alasan bahwa kita melakuakan dengan alasan “kepepet”. Hal itu tidak bisa diterima, karena lama – kelamaan akan menjadi kebiasaan buruk dan akan menghambat perjalanan kita.

           Hingga sampai ke tempat tujuan kita sementara, ada sebuah “jurang” yang harus kita lewati. Tentunya kita tidak hanya duduk berdiam sambil melihat jurang di depan kita. Dalam perjuangan terakhir, kita dituntut untuk saling bekerja sama untuk membangun sebuah “jembatan” penyebrangan. Awalnya kita memang tidak bisa, tetapi kita telah memperoleh kunci dari perjalanan yang telah kita lalui yaitu kita harus berlatih. Sehingga jembatan yang kita buat benar-benar kokoh dan mampu membawa kita pada keberhasilan. Bagi yang mencari “jalan pintas” dengan membuat jembatan sendiri yang instant, malahan akan tertinggal karena rapuhnya jembatan itu.


             Sesampainya di tempat tujuan sementara, kita boleh berhenti di depan gerbang untuk menginjakkan jejak kita yang terakhir kalinya. Disitulah kita dapat melihat, jejak itu begitu indah seolah-olah ada “warna-warni” yang menghiasi setiap lekukakannya. Dan saat kita melihat kebelakang, footprint (bekas jejak kaki) berkelok-kelok panjang menghiasi perjalanan yang telah kita lalui. Setelah kita melewati gerbang itu, jangan terkejut bahwa setitik cahaya di depan kita harus dicapai dengan melewati hutan belantara nan luas. Oleh karenanya, mari kita bangkit dari kegagalan kita dan meneruskan keberrhasilan kita. Tetaplah semangat dan jangan pernah menyerah pada keadaan. Dan Tuhan pun menyertai kita. Deo Gratias!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar